Sabtu, 09 Juli 2011

Sumur Resapan Individual untuk Daerah Perkotaan

[webtekniksipil] - Daerah perkotaan merupakan daerah yang berpenduduk padat. Lahan yang tertutupi bangunan lebih banyak dibandingkan dengan lahan terbuka. Di samping itu, kebutuhan air tanah untuk keperluan rumah tangga cukup tinggi. Sejalan dengan berkembangnya pemukiman penduduk, peresapan air hujan semakin lama semakin sedikit. Sementara itu, air yang ditarik ke atas permukaan melalui sumur-sumur atau pompa semakin banyak. Wajar saja bila di kota-kota besar seperti Jakarta cenderung terjadi penurunan muka air tanah sehingga air sulit didapat.
Sumur Resapan Individual Perkotaan
Selain dapat menekan terjadinya banjir, sumur resapan ini juga dapat berfungsi untuk menyediakan cadangan air tanah pada musim kemarau.
[webtekniksipil] - Daerah perkotaan merupakan daerah yang berpenduduk padat. Lahan yang tertutupi bangunan lebih banyak dibandingkan dengan lahan terbuka. Di samping itu, kebutuhan air tanah untuk keperluan rumah tangga cukup tinggi. Sejalan dengan berkembangnya pemukiman penduduk, peresapan air hujan semakin lama semakin sedikit. Sementara itu, air yang ditarik ke atas permukaan melalui sumur-sumur atau pompa semakin banyak. Wajar saja bila di kota-kota besar seperti Jakarta cenderung terjadi penurunan muka air tanah sehingga air sulit didapat.
Sumur Resapan Perkotaan Individual
Sumur resapan individual adalah sumur resapan yang dibuat secara pribadi untuk masing-masing rumah. Biaya pembuatan dan pemeliharaan diserahkan kepada pemiliknya.
Tabel 1 :
JARAK MINIMAL SUMUR RESAPAN DENGAN BANGUNAN LAINNYA.
Kondisi yang AdaJarak Minimal
dengan Sumur Resapan (m)
Bangunan3,0
Batas pemilikan1,5
Sumur air minum10,5
Aliran air (sungai)30,0
Pipa air minum3,0
Jalan1,5
Pohon besar3,0
 Sumber : Diolah dari Cotteral dan Norris dalam Kalbermatten et. aL, 1969
Letak sumur resapan harus memperhatikan keadaan lingkungan setempat. Dengan demikian, sumur resapan akan berfungsi dengan baik tanpa menimbulkan dampak baru bagi kepentingan lainnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah jarak dengan bangunan lain seperti septic tank, sumur air minum, jalan, rumah, dan jalan umum. Jarak minimal sumur resapan dengan bangunan lain disajikan pada Tabel 1. Sementara itu, salah satu contoh tata letak sumur resapan individual di perkotaan dapat dilihat pada Gambar 1.
Tata letak sumur resapan individual
Gambar 1.  Tata letak sumur resapan individual.
Volume sumur resapan harus memperhatikan curah hujan, luas lahan rumah, dan kondisi tanah. Pada lahan yang tertutupi banyak bangunan, volume sumur resapan dibuat lebih besar dibandingkan lahan yang terbuka luas. Jenis tanah yang berbeda juga akan mempengaruhi daya resap air sehingga perlu diperhitungkan dalam perencanaan sumur resapan. Pada tanah berpasir, air akan lebih cepat meresap dibandingkan dengan pada tanah liat. Pada tanah liat, waktu tinggal air di dalam sumur resapan lebih lama sehingga volumenya harus lebih besar dibandingkan dengan tanah berpasir. Volume yang umum untuk perumahan yang memiliki luas lahan sekitar 100 m2 dapat membuat sumur resapan yang ukurannya 1 m x 1m x 2 m. Untuk lahan dengan permukaan air dalam, tinggi sumur resapan 2 m, lebar 1 m, dan panjang 1 m. Untuk tanah yang memiliki muka air dangkal, tingginya 1 m, lebar 1 m, dan panjangnya 2 m. Untuk lebih jelasnya perhatikan Gambar 2.
Ukuran sumur resapan individual daerah perkotaan
Gambar 2.  Ukuran sumur resapan individual daerah perkotaan.
Pilihan jenis bahan sumur resapan individual yang dapat digunakan untuk daerah perkotaan amatlah banyak. Dinding dapat dibuat dari tembok, hong, atau fiberglass. Saluran air dapat dibuat dari pipa PVC atau pipa besi 6 inci. Bahan peresapan dapat menggunakan tumpukan kerikil (setebal 2-20 mm) atau dari ijuk. Selain itu, lubang resapan biopori (LRB) juga bisa menjadi alternatif sumur resapan individual untuk daerah perkotaan.
  1. Sumur Resapan dari Tembok
  1. Bahan-bahan
  2. 1).Bata merah:320 buah (batu 2 kubik, atau batako besar 70 buah)
    2).Pasir beton:2 kubik
    3).Semen:5 sak
    4).Kerikil:1/2 kubik atau ijuk 2 karung besar
    5).Paralon 6 inci:2 buah
    6).Besi beton:15 m
    7).Kaso:2 batang
  3. Cara pembuatan sumur resapan
    1. Tentukan lokasi yang memenuhi syarat yaitu jaraknya tepat dengan bangunan Iainnya seperti Gambar 1. Selanjutnya, buat lubang galian berukuran 1,5 m x 1,5 m x 2 m.
    1. Masukkan batu kerikil atau ijuk ke dasar sumur sampai ketebalannya 10-20 cm.
    1. Buat pasangan bata yang terletak di tengah atau berjarak 25 cm dari dinding tanah. Kemudian, pasangan bata ditumpangkan pada lapisan kerikil di dasar sumur agar air bisa masuk ke samping. Bila menggunakan ijuk, pasangan menempel pada dasar tanah dengan dibuat lubang-lubang di dasarnya. Pasangan dibuat sampai ketinggian 30 cm dari permukaan tanah.
    1. Tembok yang sudah jadi, selanjutnya diplester dengan semen pada bagian dalamnya. Setelah itu, masukkan kerikil atau ijuk ke sela dinding tanah hingga hampir penuh. Selanjutnya, bagian atasnya ditutup adukan hingga padat.
    1. Saluran air dari talang diarahkan ke sumur resapan dengan pipa yang dilengkapi oleh saringan sampah dan penyadap lumpur pada salah satu ujungnya. Saringan sampah dibuat dari potongan besi beton yang dipotongpotong sepanjang 30 cm, lalu ditancapkan ke ujung pipa pemasukan pada penyadap lumpur. Bagian pipa yang menempel pada sumur resapan diberi adukan semen agar kokoh. Posisi pipa saluran dibuat agak miring ke dalam sumur resapan.
    1. Buat saluran limpasan dengan pipa dari sumur resapan ke saluran pembuangan air atau parit. Beri adukan hingga kuat. Pipa dibuat agak miring ke luar.
    1. Buat bagian penutupnya dengan menggunakan cetakan beton. Caranya adalah sebagai berikut.
      1. Mula-mula buat cetakan tutup dari kayu, panjang dan lebarnya 1,2 m dengan tinggi 5-7 cm.
    1. Buatkan kerangka beton dari besi dan kawat yang dilengkapi tarikan untuk membuka dan menutup sumur, ukuran kerangkanya sedikit lebih kecil dari ukuran cetakan.
    1. Hamparkan kertas semen atau koran pada tanah yang rata, lalu letakkan cetakan dan masukkan kerangka beton ke dalamnya. Buat adukan beton dengan campuran 1 sak semen, 2 sak pasir, dan 1 sak kerikil. Selanjutnya adukan beton tersebut dimasukkan cetakan dan diratakan bagian atasnya. Biarkan hingga kering. Setelah kering, baru diangkat dan ditutupkan ke sumur yang telah jadi.
    1. Sumur resapan sudah siap.
      Bila terletak di taman, sumur resapan bisa dikelilingi atau tanaman. Dengan demikian, keindahan taman tidak akan terganggu.
Konstruksi sumur resapan invidual
Gambar 3.  Konstruksi sumur resapan invidual.
  1. Sumur Resapan dari Hong
  1. Bahan-bahan yang diperlukan
  2. Dinding sumur resapan secara individual dapat dibuat dengan menggunakan 2 buah hong (saluran air besar) yang berdiameter 1 m. Bahan lain yang digunakan adalah sebagai berikut.
    1).Semen:2 sak
    2).Pasir:1/2 kubik
    3).Paralon 6 inci:2 buah
    4).Besi rangka beton:15 m
    5).Kawat beton:secukupnya
  3. Cara pembuatan
    1. Siapkan 2 buah hong yang berdiameter 1 m beserta bahan dan peralatan lainnya. Buatlah lubang pada salah satu hong sebesar 15-16 cm sebagai tempat pemasukan dan limpasan jarak dari atas setinggi
      20 cm.
    1. Galilah lubang ukuran 1,2 m x 1,2 m dengan kedalaman 2 m. Masukkan kerikil atau ijuk (untuk alas dasarnya setinggi 20 cm) ke dalam lubang tersebut.
    1. Masukkan hong yang tidak dilubangi pada galian tersebut kemudian masukkan lagi hong yang satunya. Setelah itu, isi sela antara hong dan dinding galian tanah dengan ijuk atau kerikil hingga penuh.
    1. Pasang pipa untuk pemasukan dan pelimpasan air, lalu beri adukan pada sambungan hong dan pipa. Pemasangan pipa dilakukan dengan cara menggali tanah sedalam 20 cm lalu ditimbun. Saluran pemasukan mengarah ke talang air rumah, sedangkan saluran limpasan mengarah ke parit pembuangan. Kemudian buat tutup sumur seperti pada sumur resapan tembok.
Konstruksi sumur resapan dari hong
Gambar 4.  Konstruksi sumur resapan dari hong.
  1. Sumur Resapan dari Fiberglass
Bahan lain yang dapat dibuat sebagai bahan untuk membuat sumur resapan adalah tangki fiberglass. Volume tangki fiberglass yang dapat dipakai sebagai sumur resapan adalah 2.000 I. Cara pembuatan sumur resapan dengan tangki ini lebih praktis dan tidak perlu lagi membuat tutup karena tangki yang beredar di pasaran sudah ada tutupnya.
  1. Lubang Resapan Biopori
Teknik pembuatannya yang sederhana, membuat Lubang Resapan Biopori (LRB) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif sumur resapan yang dibuat secara individual. Walaupun diameternya cukup kecil bila dibandingkan dengan jenis sumur resapan lainnya, tetapi lokasi lubang tidak boleh dibuat di sembarang tempat. Selain harus indah dilihat, LRB pun harus ditempatkan di lokasi yang dilalui air serta tidak membahayakan bagi manusia dan hewan peliharaan. Beberapa lokasi yang dapat dipilih yaitu di sekeliling pohon, dan tepi taman.
Pada umumnya, bahan yang perlu disiapkan untuk membuat lubang resapan biopori hanya berupa sampah organik (daun/ranting kering) dan air saja. Sementara itu, beberapa peralatan yang digunakan untuk membuat lubang resapan biopori yaitu bor tanah (bor biopori), pisau/sendok semen, ember, gayung.
Adapun cara pembuatan lubang resapan biopori adalah sebagai berikut.
  1. Siapkan seluruh bahan dan peralatan yang diperlukan serta tentukan lokasi pembuatan LRB. Kemudian sebelum memulai pemboran, siram tanah terlebih dahulu dengan air agar menjadi lunak.
  2. Selanjutnya mulailah membuat lubang dengan menggunakan bor.
  3. Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor terlihat penuh dengan tanah, tarik bor keluar dan bersihkan dengan menggunakan pisau, sepotong kayu/bambu atau sendok semen. Begitu seterusnya sampai kedalaman yang diinginkan, yaitu 100 cm.
  4. Setelah lubang resapan biopori siap, masukkan sampah organik ke dalam lubang sampai penuh. Pengisian sampah jangan terlalu padat agar tidak mengurangi jumlah oksigen di dalam tanah.
Lubang resapan biopori dapat diperkuat dengan memberikan adukan semen pada bagian mulut lubang. Kemudian untuk memperindah LRB, dapat juga ditambahkan hiasan pada permukaan adukan semen, bisa berupa batu hias, batu alam, atau pecahan keramik. Sementara itu, LRB dapat ditutup dengan besi beton atau alat penutup lainnya agar tidak membahayakan bagi yang lalu lalang. Alat penutup yang digunakan harus bisa dilalui air dan cukup kuat menahan beban jika terinjak.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

Jumat, 08 Juli 2011

Perencanaan Pembuatan Sumur Resapan

[webtekniksipil] - Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan. Model dan ukuran sumur resapan yang digunakan harus memperhatikan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Konstruksi harus terbuat dari bahan yang kuat, tetapi tersedia di lokasi dan mudah didapat. Dengan demikian, masyarakat akan mudah untuk menerapkannya.
Mengenal Sumur Resapan
Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan.
[webtekniksipil] - Sumur resapan yang dibuat harus memenuhi teknis yang baik agar daya kerjanya dapat dipertanggungjawabkan serta tidak menimbulkan dampak baru terhadap lingkungan. Model dan ukuran sumur resapan yang digunakan harus memperhatikan faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Konstruksi harus terbuat dari bahan yang kuat, tetapi tersedia di lokasi dan mudah didapat. Dengan demikian, masyarakat akan mudah untuk menerapkannya.
Pembuatan sumur resapan harus disadari oleh masyarakat sebagai kebutuhan dan kewajiban demi kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kemauan untuk membuat sumur resapan, harus ditempuh melalui pendekatan kebijaksanaan pemerintah. Kebijaksanaan tersebut dengan cara mengeluarkan peraturan atau undang-undang yang mengatur konservasi air tanah melalui sumur resapan.
Penerapannya dapat berupa aturan yang mewajibkan kepada setiap pemilik rumah atau bangunan lainnya untuk memiliki sumur resapan. Hal tersebut misalnya dapat diterapkan dalam pengurusan IMB. Izin mendirikan bangunan (IMB) akan diberikan dengan syarat ada sumur resapan.Terlebih lagi untuk proyek-proyek bangunan besar atau perumahan, setiap developer diwajibkan untuk membuat sumur resapan di kawasan pemukimannya secara kolektif. Dalam hal ini, pemerintah juga dapat menerapkan sanksi-sanksi administratif atau denda kepada developer yang tidak peduli akan kepentingan lingkungan dengan tidak melengkapi kawasannya dengan sumur resapan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumya, keefektifan dari sumur resapan sangat tergantung kepada volume dan jumlah sumur resapan. Oleh karena itu, banyaknya air yang dapat diserap ke dalam tanah tergantung pada banyaknya orang yang sadar dan mau membuat sumur resapan. Hal ini terkait dengan keadaan sosial budaya masyarakat, terutama pengetahuan masyarakat akan pentingnya kelestarian air tanah. Oleh karena itu, program pelestarian air melalui sumur resapan harus pula ditempuh melalui pendekatan sosial budaya masyarakat. Misalnya, dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan, khususnya penerapan sumur resapan, dengan penyuluhan-penyuluhan intensif melalui metode yang sesuai dengan kehidupan masyarakat tersebut.
Faktor-faktor yang Perlu Dipertimbangkan
Dalam rencana pembuatan sumur resapan, perlu diperhitungkan faktor iklim, kondisi air tanah, kondisi tanah, tata guna tanah, dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
  1. Faktor iklim
Iklim merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan sumur resapan. Faktor yang perlu mendapat perhatian adalah besarnya curah hujan. Semakin besar curah hujan di suatu wilayah berarti semakin besar atau banyak sumur resapan yang diperlukan. Besarnya curah hujan dapat dibedakan menjadi tiga kelas, yaltu curah hujan rendah (<1.500 mm/tahun), curah hujan sedang (1.500-2500 mm/tahun), dan curah hujan tinggi (>2500 mm/tahun).
  1. Kondisi air tanah
Pada kondisi permukaan air tanah yang dalam, sumur resapan perlu dibuat secara besar-besaran karena tanah benar-benar memerlukan suplai air melalui sumur resapan. Sebaliknya, pada lahan yang muka airnya dangkal, sumur resapan ini kurang efektif dan tidak akan berfungsi dengan baik. Terlebih pada daerah rawa dan pasang surut. Justru daerah tersebut lebih memerlukan saluran drainase.
Tabel 1 :
Jumlah Sumur Resapan Yang Harus Dibuat Berdasarkan Kondisi Permeabilitas dan Luas Bidang Tanah.
NoLuas Bidang Tanah
( m2 )
Jumlah Sumur (buah)
Permeabilitas
sedang
Permeabilitas
agak cepat
Permeabilitas
cepat
80 cm140 cm80 cm140 cm80 cm140 cm
1.201-----
2.301-1---
3.40211---
4.50211-1-
5.60211-1-
6.7031211-
7.8032211-
8.90322121
9.100422121
10.200834232
11.3001257352
12.4001569463
13.50019811574
  1. Kondisi tanah
Keadaan tanah sangat berpengaruh pada besar kecilnya daya resap tanah terhadap air hujan. Dengan demikian, konstruksi dari sumur resapan harus mempertimbangkan sifat fisik tanah. Sifat fisik yang langsung berpengaruh terhadap besarnya infiltrasi (resapan air) adalah tekstur dan pori-pori tanah.
Tanah berpasir dan porus lebih mampu merembeskan air hujan dengan cepat. Akibatnya, waktu yang diperlukan air hujan untuk tinggal dalam sumur resapan relatif singkat dibandingkan dengan tanah yang kandungan liatnya tinggi dan Iekat.Tabel 2 menyajikan hubungan antara beberapa tipe tekstur tanah dengan kecepatan infiltrasi.
Tabel 2 :
Hubungan Kecepatan Infitrasi dan Tekstur Tanah.
Tekstur TanahKeceptan Infiltrasi
( mm per jam )
Kriteria
Pasir Berlempung25 - 50sangat cepat
Lempung12,5 - 25cepat
Lempung berdebu7,5 - 15sedang
Lempung berliat0,5 - 2,5lambat
Liat< 0,5sangat lambat
Sumber : Sitanala Arsyad, 1976
  1. Tata guna tanah ( land use )
taman kota
Taman kota, Memiliki daya serap air yang sangat tinggi, mencapai 95%.
Tata guna tanah akan berpengaruh terhadap persentase air yang meresap ke dalam tanah dengan aliran permukaan. Pada tanah yang banyak tertutup beton bangunan, air hujan yang mengalir di permukaan tanah akan lebih besar dibandingkan dengan air yang meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, di lahan yang penduduknya padat, sumur resapan harus dibuat Iebih banyak dan lebih besar volumenya. Hubungan antara tata guna tanah dengan daya resap tanah terhadap air hujan disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 :
PERBEDAAN DAYA RESAP TANAH PADA BERBAGAI KONDISI PERMUKAAN TANAH.
No.Tata Guna Tanah
( Land Use )
Daya Serap Tanah
Terhadap Air Hujan (%)
1.Daerah hutan, pekarangan lebat, kebun, ladang berumput80 - 100
2.Daerah taman kota75 - 95
3.Jalan tanah40 - 85
4.Jalan aspal, lantai beton10 - 15
5.Daerah dengan bangunan terpencar30 - 70
6.Daerah pemukiman agak padat5 - 30
7.Daerah pemukiman padat10 - 30
Sumber : Fajar Nadi, 1979
  1. Kondisi sosial ekonomi masyarakat
Perencanaan sumur resapan harus memperhatikan kondisi sosial perekonomian masyarakat. Misalnya, pada kondisi perekonomian yang balk, biaya untuk sumur resapan dapat dibebankan kepada masyarakat dan konstruksinya dapat dibuat dari bahan yang benar-benar kuat. Sebaliknya pada kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah, sumur resapan harus terbuat dari bahan-bahan yang murah dan mudah didapat serta konstruksinya sederhana. Selain itu, pendanaan sumur resapan pada daerah minim sebaiknya berupa bantuan dari pemerintah melalui proyek APBD atau APBN.
  1. Ketersedian bahan
Perencanaan konstruksi sumur resapan harus mempertimbangkan ketersediaan bahan-bahan yang ada di lokasi. Misalnya, untuk daerah perkotaan, sumur resapan dapat terbuat dari beton, tangki fiberglass, atau cetakan beton (hong). Sementara untuk daerah pedesaan, sumur resapan yang cocok dikembangkan yaitu dari bambu atau kayu yang tahan lapuk atau bahan lain yang murah dan mudah didapat di lokasi.
Bahan-bahan untuk Sumur Resapan
Sumur resapan dapat dibuat dari berbagai bahan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan serta ketersediaan bahan baku di lokasi dan ketersediaan dana yang memadai. Bahan-bahan pokok yang dapat dibuat untuk sumur resapan sebagai berikut.
  1. Bahan saluran air dapat menggunakan pipa besi, pipa paralon (PVC), bambu, hong dari tanah atau beton, dan parit-parit galian tanah yang diberi batu
  2. Dinding sumur dapat menggunakan tembok, drum bekas, hong beton, anyaman bambu, atau tangki fiberglass.
  3. Alas sumur dan sela bagian dinding tempat meresapnya air dapat menggunakan bahan kerikil atau ijuk.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

Kamis, 07 Juli 2011

Standarisasi dan Jenis-jenis Sumur Resapan

[webtekniksipil] - Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan tanah meresapkan air hujan yaitu melalui pembuatan sumur resapan. Sumur resapan air khususnya di kawasan pemukiman baik di perkotaan maupun di pedesaan, selain dapat menekan terjadinya banjir, sumur resapan ini juga dapat berfungsi untuk menyediakan cadangan air tanah pada musim kemarau. Dengan sumur resapan ini, air hujan akan ditampung dan diresapkan ke dalam tanah sehingga dapat memperbaiki permukaan air tanah serta mengurangi aliran permukaan. Sementara itu, dengan pembuatan sumur resapan ini akan mampu menekan banjir dan menyediakan air tanah pada musim kemarau sehingga sumur-sumur dan mata air yang ada dapat tetap berair pada saat kemarau.
Standarisasi Sumur Resapan
Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan tanah meresapkan air hujan yaitu melalui pembuatan sumur resapan.
[webtekniksipil] - Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan tanah meresapkan air hujan yaitu melalui pembuatan sumur resapan. Sumur resapan air khususnya di kawasan pemukiman baik di perkotaan maupun di pedesaan, selain dapat menekan terjadinya banjir, sumur resapan ini juga dapat berfungsi untuk menyediakan cadangan air tanah pada musim kemarau. Dengan sumur resapan ini, air hujan akan ditampung dan diresapkan ke dalam tanah sehingga dapat memperbaiki permukaan air tanah serta mengurangi aliran permukaan. Sementara itu, dengan pembuatan sumur resapan ini akan mampu menekan banjir dan menyediakan air tanah pada musim kemarau sehingga sumur-sumur dan mata air yang ada dapat tetap berair pada saat kemarau.
STANDARISASI SUMUR RESAPAN
Pemerintah pada dasarnya teiah mewajibkan pembuatan sumur resapan di setiap pekarangan rumah. Akan tetapi, banyak dari masyarakat yang belum mengetahui standar sumur resapan air yang balk dan benar. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 03-2453-2002, dapat diketahui bahwa persyaratan umum yang harus dipenuhi sebuah sumur resapan untuk lahan pekarangan rumah adalah sebagai berikut.
  1. Sumur resapan harus berada pada lahan yang datar, tidak pada tanah berlereng, curam atau labil.
  2. Sumur resapan harus dijauhkan dari tempat penimbunan sampah, jauh dari septic tank (minimum 5 m diukur dari tepi), dan berjarak minimum 1 m dari fondasi bangunan.
  3. Penggalian sumur resapan bisa sampai tanah berpasir atau maksimal 2 m di bawah permukaan air tanah. Kedalaman muka air (water table) tanah minimum 1,5 m pada musim hujan.
  4. Struktur tanah harus mempunyai permeabilitas tanah (kemampuan tanah menyerap air) lebih besar atau sama dengan 2,0 cm/jam (artinya, genagan air setinggi 2 cm akan teresap habis dalam 1 jam), dengan tiga klasifikasi, yaitu sebagai berikut.
    • Permeabilitas sedang, yaitu 2,0-3,6 cm/jam.
    • Permeabilitas tanah agak cepat (pasir halus), yaitu 3,6-36 cm/jam.
    • Permeabilitas tanah cepat (pasir kasar), yaitu lebih besar dari 36 cm/jam.
Untuk bentuk dan ukuran konstruksi sumur resapan air yang ideal dapat mengacu pada SNI No. 03-2459-1991 yang dikeluarkan oleh Departemen Kimpraswil, yaitu berbentuk segi empat atau silinder dengan ukuran minimal diameter 0,8 m dan maksimum 1,4 m serta kedalamannya disesuaikan dengan tipe konstruksi sumur resapan air. Sementara itu, pemilihan bahan bangunan yang dipakai tergantung dari fungsinya, seperti plat beton bertulang tebal 10 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil untuk penutup sumur dan dinding bata merah dengan campuran spesi 1 semen : 5 pasir tidak diplester, tebal 1/2 bata. <update>Aturan ini telah direvisi dengan SNI 03-2453-2002 (Tata cara perencanaan sumur resapan air hujan untuk lahan pekarangan).<update>
Jenis-jenis Sumur Resapan
Konversi lahan pertanian
Sumur dengan susunan batu kali (kiri). Sumur dengan susunan batu bata (kanan).
Jenis bangunan sumur resapan cenderung bervariasi. Bentuk dan jenis bangunan sumur resapan dapat berupa bangunan sumur resapan air yang dibuat segi empat atau silinder dengan kedalaman tertentu dan dasar sumur terletak di atas permukaan air tanah. Berikut ini merupakan berbagai jenis konstruksi sumur resapan yang sering dipakai.
  1. Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur tidak diisi apa pun (kosong).
  2. Sumur tanpa pasangan di dinding sumur, dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk.
  3. Sumur dengan susunan batu bata, batu kali atau batako di dinding sumur. Dasar sumur diisi dengan batu belah dan ijuk atau kosong.
  4. Sumur menggunakan besi beton di dinding sumur.
  5. Sumur menggunakan blawong (batu cadas yang dibentuk khusus untuk dinding sumur).
Berbagai konstruksi tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan kondisi batuan/tanah (formasi batuan dan struktur tanah). Selain itu, disesuaikan juga dengan kebutuhan dan anggaran dana yang dimiliki.
Selain berbagai jenis konstruksi di atas, saat ini juga telah ditemukan alternatifjenis sumur resapan yang relatif sederhana berupa lubang resapan biopori (LRB). Secara teknis, LRB merupakan lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm. Kedalamannya tidak melebihi kedalaman muka air tanah yaitu sekitar 100 cm. Pembuatan LRB yang relatif sederhana sangat cocok untuk kawasan pemukiman, balk di kota maupun di desa.
Prinsip kerja lubang resapan biopori (LRB) hampir sama dengan sumur resapan yaitu meresapkan air ke dalam tanah. Air tersebut meresap melalui biopori yang menembus permukaan dinding LRB ke dalam tanah di sekitar lubang. Biopori sendiri merupakan ruangan atau pori dalam tanah yang terbentuk akibat adanya aktivitas makhluk hidup seperti fauna tanah dan akar tanaman.
Jumlah dan ukuran biopori akan terus bertambah mengikuti pertumbuhan akar tanaman serta peningkatan populasi dan aktivitas mikroorganisme tanah. Oleh karena itu, untuk meningkatkan populasi dan mikroorganisme tanah maka LRB diisi dengan bahan organik seperti dedaunan kering dan sampah organik lainnya.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

Rabu, 06 Juli 2011

Mengenal Sumur Resapan : Pengertian, Kegunaan dan Prinsip Kerja

[webtekniksipil] - Permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di negara kita saat ini adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu, di beberapa tempat terjadi pula penurunan permukaan air tanah. Hal ini disebabkan adanya penurunan kemampuan tanah untuk meresapkan air sebagai akibat adanya perubahan lingkungan yang merupakan dampak dari proses pembangunan. Perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu dampak dari pemanasan global (global warming). Perubahan iklim yang ekstrim sering kali mengakibatkan terjadinya bencana seperti banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal tersebut turut diperparah pula oleh semakin rendahnya kemampuan tanah dalam meresapkan air sebagai akibat dari berkurangnya daerah resapan air di permukaan tanah.
Mengenal Sumur Resapan
Sumur resapan sangat berguna untuk memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi.
[webtekniksipil] - Permasalahan lingkungan yang sering dijumpai di negara kita saat ini adalah terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu, di beberapa tempat terjadi pula penurunan permukaan air tanah. Hal ini disebabkan adanya penurunan kemampuan tanah untuk meresapkan air sebagai akibat adanya perubahan lingkungan yang merupakan dampak dari proses pembangunan.
Perubahan iklim yang terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu dampak dari pemanasan global (global warming). Perubahan iklim yang ekstrim sering kali mengakibatkan terjadinya bencana seperti banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Hal tersebut turut diperparah pula oleh semakin rendahnya kemampuan tanah dalam meresapkan air sebagai akibat dari berkurangnya daerah resapan air di permukaan tanah.
PENGERTIAN SUMUR RESAPAN
Sumur resapan merupakan sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur resapan ini kebalikan dari sumur air minum. Sumur resapan merupakan lubang untuk memasukkan air ke dalam tanah, sedangkan sumur air minum berfungsi untuk menaikkan air tanah ke permukaan. Dengan demikian, konstruksi dan kedalamannya berbeda. Sumur resapan digali dengan kedalaman di atas muka air tanah, sedangkan sumur air minum digali lebih dalam lagi atau di bawah muka air tanah.
KEGUNAAN SUMUR RESAPAN
Penerapan sumur resapan sangat dianjurkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia adalah sebacial pengendali banjir, melindungi dan memperbaiki (konservasi) air tanah, serta menekan laju erosi.
Sumur resapan dapat dikatakan sebagai suatu rekayasa teknik konservasi air, berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur galian dengan kedalaman tertentu. Fungsi utama dari sumur resapan ini adalah sebagai tempat menampung air hujan dan meresapkannya ke dalam tanah. Sementara itu, manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan sumur resapan air di antaranya adalah :
  1. mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi,
  2. mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah,
  3. mengurangi atau menahan terjadinya kenaikan air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai,
  4. mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan
  5. mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah.
Penurunan muka air tanah yang banyak terjadi akhir-akhir ini dapat teratasi dengan bantuan sumur resapan.Tanda-tanda penurunan muka air tanah terlihat pada keringnya sumur dan mata air pada musim kemarau serta timbulnya banjir pada musim hujan. Perubahan lingkungan hidup sebagai akibat dari proses pembangunan, berupa pembukaan lahan, penebangan hutan, serta pembangunan pemukiman dan industri diduga menyebabkan terjadinya hal tersebut.
Menurut para ahli, penurunan muka air tanah di Kota Jakarta mencapai 0,5-12 cm/tahun, sedangkan kenaikan air laut sekitar 0,9 cm/tahun. Dengan demikian, dapat diperkirakan bahwa Kota Jakarta akan tenggelam dalam waktu 50 tahun ke depan. Kondisi tersebut juga diperkirakan akan terjadi di kota-kota lainnya di Indonesia.
Kondisi demikian tidak menguntungkan bagi perkembangan perekonomian kita yang sedang giat-giatnya membangun. Oleh karena itu, perhatian dari semua pihak diperlukan dalam upaya pengendalian banjir serta perbaikan dan perlindungan (konservasi) air tanah.
Salah satu strategi atau cara pengendalian air, baik mengatasi banjir atau kekeringan adalah melalui sumur resapan. Sumur resapan ini merupakan upaya memperbesar resapan air hujan ke dalam tanah dan memperkecil aliran permukaan sebagai penyebab banjir.
Upaya ini akan berfungsi bila semua warga sadar dan mau menerapkannya. Peran sumur resapan tidak akan berarti bila hanya beberapa penduduk raja yang menerapkan. Dapat dibayangkan bila setiap penduduk suatu kawasan yang memiliki sejuta bangunan menerapkan sumur resapan. Masing-masing mampu meresapkan air satu kubik. Dengan demikian, sejuta kubik air akan masuk ke dalam tanah sehingga kawasan tersebut dapat terhindar dari bahaya banjir dan mampu mengurangi masalah kekeringan pada musim kemarau.
  1. Pengendali banjir
Banjir sering kali menggenangi kawasan pemukiman ketika musim hujan tiba.Terjadinya banjir pada kawasan pemukiman dapat disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya:
  1. pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan bangunan (GSB),
  2. sistem drainase yang tidak terencana dengan baik, dan
  3. masih kurangnya kesadaran para penghuni kawasan permukiman terhadap pengelolaan sampah.
Pada dasarnya pengembangan rumah merupakan suatu kebutuhan dari setiap penghuni kawasan pemukiman sejalan dengan penambahan jumlah anggota keluarga atau untuk kebutuhan lain. Proses pengembangan rumah-rumah pada suatu kawasan pemukiman biasanya berkisar 5-15 tahun atau dapat lebih cepat, tergantung dari lokasi perumahan serta fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) yang dimiliki perumahan tersebut.
Pengembangan rumah atau penambahan jumlah ruangan terjadi hampir pada semua lokasi pemukiman. Rumah-rumah cenderung dikembangkan ke arah horisontal dengan pertimbangan biaya konstruksi akan lebih murah jika dibandingkan dengan pengembangan ke arah vertikal. Namun, hal tersebut justru sering mengakibatkan pengembangan rumah yang melewati batas garis sempadan bangunan (antara 3-4 m dari tepi jalan). Dengan demikian pada musim hujan, volume aliran air permukaan menjadi besar dan volume air yang meresap ke dalam tanah sangat sedikit sehingga mengakibatkan genangan banjir.
Banjir yang sering melanda beberapa kawasan perumahan telah berlangsung cukup lama, bahkan telah dianggap sebagai rutinitas yang terjadi setiap tahun. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun sumur resapan air pada setiap rumah dalam suatu kawasan perumahan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan sehingga dapat menghindari terjadinya genangan aliran permukaan secara berlebihan yang menyebabkan banjir.
Banyaknya aliran permukaan yang dapat dikurangi melalui sumur resapan tergantung pada volume dan jumlah sumur resapan. Misalnya, sebuah kawasan yang jumlah rumahnya 1.000 buah, jika masingmasing membuat sumur resapan dengan volume 2 kubik berarti dapat mengurangi aliran permukaan sebesar 2.000 kubik air.
Sementara itu, jika dibangun sebanyak 265 ribu sumur resapan (berukuran 1 m x 1 m dengan kedalaman 3 m) di Kota Jakarta maka fungsinya dapat disetarakan dengan Banjir Kanal Timur. Sumur resapan ini mampu mengalihkan air yang biasanya dikirim ke Jakarta melalui 13 sungai.
  1. Konservasi air tanah
Fungsi lain dari sumur resapan ini adalah memperbaiki kondisi air tanah atau mendangkalkan permukaan air sumur. Di sini diharapkan air hujan lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah menjadi air cadangan dalam tanah. Air yang tersimpan dalam tanah tersebut akan dapat dimanfaatkan melalui sumur-sumur atau mata air.
Peresapan air melalui sumur resapan ke dalam tanah sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian masyarakat. Dengan adanya perubahan tata guna tanah tersebut akan menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Hal ini mengingat semakin banyaknya tanah yang tertutupi tembok, beton, aspal, dan bangunan lainnya yang tidak meresapkan air. Penurunan daya resap tanah terhadap air dapat juga terjadi karena hilangnya vegetasi penutup permukaan tanah.
Penutupan permukaan tanah oleh pemukiman dan fasilitas umum berdampak besar terhadap kondisi air tanah. Seandainya di kawasan pemukiman seluas 1.000 hektar dan tertutupi 3/4 bagiannya, berarti setiap kali turun hujan yang curah hujannya 1.000 mm akan ada 750.000 kubik air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah. Jumlah sekian akan berkumpul dengan aliran permukaan dari kawasan lain pada lahan yang rendah sehingga dapat mengakibatkan banjir.
Banjir yang sering melanda beberapa kawasan perumahan telah berlangsung cukup lama, bahkan telah dianggap sebagai rutinitas yang terjadi setiap tahun. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun sumur resapan air pada setiap rumah dalam suatu kawasan perumahan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sumur resapan mampu memperkecil aliran permukaan sehingga dapat menghindari terjadinya genangan aliran permukaan secara berlebihan yang menyebabkan banjir.
  1. Menekan laju erosi
Dengan adanya penurunan aliran permukaan maka laju erosi pun akan menurun. Bila aliran permukaan menurun, tanah-tanah yang tergerus dan terhanyut pun akan berkurang. Dampaknya, aliran permukaan air hujan kecil dan erosi pun akan kecil. Dengan demikian, adanya sumur resapan yang mampu menekan besarnya aliran permukaan berarti dapat menekan laju erosi.
PRINSIP KERJA SUMUR RESAPAN
Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah.
Tujuan utama dari sumur resapan adalah memperbesar masuknya air ke dalam akuifer tanah sebagai air resapan (infiltrasi). Dengan demikian, air akan lebih banyak masuk ke dalam tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan (run off). Pada Gambar 1 dan Gambar 2 dapat dilihat proses masuknya air ke dalam akuifer bebas dan tertekan.
akuiver bebas
Gambar 1.  Proses masuknya air ke dalam Akuiver Bebas.
akuiver tertekan
Gambar 2.  Proses masuknya air ke dalam Akuiver Tertekan.
Keterangan :
Q
=
Debit aliran
K
=
Koefisien permeabilitas tanah
rw
=
Jari-jari sumuran
ro
=
Jari-jari pengaruh aliran
ho
=
Tinggi muka air tanah
hw
=
Tinggi muka air setelah imbuhan
ln
=
Logaritma natural
π
=
3,14
prinsip kerja sumur resapan
Gambar 3.  Prinsip kerja sumur resapan penampungan air hujan
Semakin banyak air yang mengalir ke dalam tanah berarti akan banyak tersimpan air tanah di bawah permukaan bumi. Air tersebut dapat dimanfaatkan kembali melalui sumur-sumur atau mata air yang dapat dieksplorasi setiap saat.
Jumlah aliran permukaan akan menurun karena adanya sumur resapan. Pengaruh positifnya bahaya banjir dapat dihindari karena terkumpulnya air permukaan yang berlebihan di suatu tempat dapat dihindarkan. Menurunnya aliran permukaan ini juga akan menurunkan tingkat erosi tanah.
Semoga Bermanfaat
( ==o0o== )
Sumber :
SUMUR RESAPAN untuk Pemukiman Perkotaan dan Pedesaan
K u s n a e d i
- (Penebar Swadaya, 2011)

Selasa, 05 Juli 2011

ebook - AutoCAD 2010 Untuk Desain Bangunan Minimalis

AutoCAD 2010 Untuk Desain Bangunan Minimalis | Wahana Komputer | Elex Media Komputindo | 2009 | Bahasa Indonesia | 260 h | pdf | 10.92 MB | ISBN : 978-979-27-5462-9 | Buku AutoCAD 2010 untuk Desain Bangunan Minimalis membahas berbagai hal yang berhubungan dengan konsep dan teknik penggambaran objek bangunan minimalis dengan AutoCAD 2010. Buku ini menjelaskan tentang teknik pembuatan dan menggambar objek bangunan minimalis disertai dengan beberapa latihan. Agar lebih mudah memahami materi yang disajikan, pembahasan dibagi menjadi enam bab yang semuanya dilengkapi dengan ilustrasi yang lengkap. Buku ini akan membahas berbagai hal berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan program AutoCAD 2010. Dalam buku ini akan dibahas mengenai teknik-teknik pembuatan objek 3 dimensi. Untuk itu pembaca diharapkan telah menguasai teknik pembuatan dan modifikasi objek 2 dimensi sebelum mempelajari buku ini.
ebook - AutoCAD 2010 Untuk Desain Bangunan Minimalis
Judul Buku
:
AutoCAD 2010 Untuk Desain Bangunan Minimalis.
Penulis
:
Wahana Komputer
Penerbit
:
Elex Media Komputindo
Tahun
:
2009
Bahasa
:
Bahasa Indonesia
Halaman
:
260 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
10.92 MB
Free download ebook - AutoCAD 2010 Untuk Desain Bangunan Minimalis.
Kemajuan teknologi dan perkembangan desain grafis yang sangat pesat dewasa ini juga berpengaruh teknik pembuatan desain bangunan. Saat ini untuk mendesain suatu gambar bangunan bisa dilakukan dengan bantuan rekayasa komputer. Salah satu aplikasi yang mendukung pembuatan rancang bangun adalah AutoCAD 2010. Kemampuan yang paling menonjol adalah mendesain gambar bangunan dalam bentuk gambar 3 dimensi.
Buku AutoCAD 2010 untuk Desain Bangunan Minimalis membahas berbagai hal yang berhubungan dengan konsep dan teknik penggambaran objek bangunan minimalis dengan AutoCAD 2010.
Buku ini menjelaskan tentang teknik pembuatan dan menggambar objek bangunan minimalis disertai dengan beberapa latihan. Agar lebih mudah memahami materi yang disajikan, pembahasan dibagi menjadi enam bab yang semuanya dilengkapi dengan ilustrasi yang lengkap.
Buku ini akan membahas berbagai hal berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan program AutoCAD 2010. Dalam buku ini akan dibahas mengenai teknik-teknik pembuatan objek 3 dimensi. Untuk itu pembaca diharapkan telah menguasai teknik pembuatan dan modifikasi objek 2 dimensi sebelum mempelajari buku ini.
DAFTAR ISI
Prakata
Daftar Isi
1
DESAIN RUMAH BERTINGKAT
AREA KERJA MODEL SPACE
Title Bar
Ribbon
Drawing Area
Command Window
MENGGAMBAR DINDING
MENGGAMBAR LANTAI
MENGATUR LAYOUT
Ribbon Panel
Menggunakan Workspace
MENGENAL SISTIM KOORDINAT
Sistem Koordinat Cartesian
Sistem Koordinat Relatif
World Coordinate System (WCS)
User Coordinate System (UCS)
Menampilkan Simbol Sistem Koordinat
MENGGAMBAR PINTU
Menempatkan Pintu
MENGGAMBAR JENDELA
Menempatkan Jendela
2
MEMBUAT ATAP DAN FINISHING
MENGGAMBAR ATAP
MENGGAMBAR CARPORT DAN TAMAN
MENGGUNAKAN UCS
Memutar UCS Terhadap Sumbu X
Memutar UCS Terhadap Sumbu Y
Memutar UCS Terhadap Sumbu Z
Menentukan Titik Origin UCS
Menentukan Titik Origin UCS dengan Z Axis
Menentukan Titik Origin UCS dengan 3 Points
Menentukan Titik Origin UCS dengan Object Face
Menyimpan UCS
Menampilkan UCS
Menghapus UCS
Mengganti Nama UCS
FINISHING DESAIN BANGUNAN
3
DESAIN RUMAH TINGGAL MINIMALIS
MEMBUAT DENAH DASAR
MEMBUAT DINDING BANGUNAN
MENGATUR TAMPILAN 3 DIMENSI
Orthograpic Views
Isometric Views
MENGGUNAKAN VIEWPORT
Viewport Objek 3D
Menggabungkan Viewport
Menyimpan Viewport
Memanggil Viewport
Menghapus Viewport
Mengganti Nama Viewport
Mengembalikan ke Single Viewport
OBJEK SOLID MODELLING DASAR
Box
Cone
Sphere
Cylinder
Torus
MEMBUAT LAMPU TAMAN
4
MEMBUAT KONSTRUKSI ATAP DAN FINISHING BANGUNAN
MENGGAMBAR PINTU
MENGGAMBAR JENDELA
MENEMPATKAN PINTU DAN JENDELA
OBJEK MESHES
3D Face
Edge Surface
Tabulated Surface
Ruled Surface
Revolved Surface
Menggunakan Thickness
OBJEK SOLID MODELLING TINGKAT LANJUT
Menggunakan Perintah Extrude
Menggunakan Perintah Revolve
MENGGUNAKAN PERINTAH 3D BOOLEAN
Perintah Union
Perintah Subtract
Perintah Intersection
MENGGUNAKAN PERINTAH FILLET
MENGGUNAKAN PERINTAH CHAMFER
MENGGAMBAR ATAP
FINISHING BANGUNAN
5
MEMBUAT BANGUNAN KANTOR MINIMALIS
MEMBUAT BANGUNAN
Menggambar Lantai
Menggambar Kolom
MENGEDIT 3D SOLID MODELLING
Extrude Faces
Move Faces
Offset Faces
Rotate Faces
Copy Faces
Taper Faces
Delete Faces
MENGGAMBAR SUMBU DINDING
Ruang Kerja 1
Ruang Kerja 2
Kamar Mandi 1
Kamar Mandi 2
Ruang Penerima
Ruang Tamu
Ruang Kerja 3
Area Kerja
Menggambar Dinding
MENGGAMBAR PINTU JENDELA
Menggambar Pintu
Menggambar Jendela
MENEMPATKAN PINTU DAN JENDELA
Membuat Outline Pelubang Dinding
Menempatkan Pelubang Dinding
Menempatkan Pelubang Jendela
Command Window
MENGGAMBAR ATAP BANGUNAN
MENGGAMBAR GAMBAR PERSPEKTIF
6
MEMBUAT DESAIN RUKO MINIMALIS
MENGGAMBAR DINDING
MENGGAMBAR LANTAI
MENGGAMBAR PINTU
MENGGAMBAR JENDELA
MENGGAMBAR ATAP
MENGGAMBAR CARPORT
FINISHING DESAIN RUKO
Penutup

Minggu, 03 Juli 2011

ebook - Aplikasi Excel Untuk Rekayasa Teknik Sipil

Aplikasi Excel Untuk Rekayasa Teknik Sipil | Guntar Pangaribuan | Elex Media Komputindo | 2004 (Cetakan ke-2) | Bahasa Indonesia | 183 h | pdf | 8.37 MB | ISBN : 979-20-5506-1 | Bekerja dengan Excel berarti kita menginginkan suatu penyelesaian yang cepat dan praktis, namun diharapkan dengan hasil yang maksimal pula. Jadi, tinggal bagaimana memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada sebaik mungkin. Tidak ada aturan baku memang dari Microsoft tentang aplikasi Excel untuk rekayasa teknik. Sebab, apabila kombinasi antara fungsi-fungsi Excel dan aplikasi VB diterapkan, aplikasinya akan sangat luas. Salah satu kekuatan Excel adalah bahasa macro-nya. Hal ini tentu tidak lepas dari aplikasi Visual Basic (Visual Basic for Application) yang bekerja dengan Excel. Macro yang selama ini kita kenal, umumnya digunakan sebagai otomasi langkah-langkah pekerjaan dalam aplikasi perkantoran. Namun dalam hal lain, juga dapat digunakan untuk aplikasi perhitungan. Di sini terdapat kombinasi yang unik antara spreadsheet dan Visual Basic yang ternyata banyak memberikan kemudahan bagi pemakai jika membuat program perhitungan di Excel.
ebook - Aplikasi Excel Untuk Rekayasa Teknik Sipil
Judul Buku
:
Aplikasi Excel Untuk Rekayasa Teknik Sipil
Penulis
:
Guntar Pangaribuan
Penerbit
:
Elex Media Komputindo
Tahun
:
2004 (Cetakan ke-2)
Bahasa
:
Bahasa Indonesia
Halaman
:
183 h
Format File
:
pdf
Ukuran File
:
8.37 MB
Free download ebook - Aplikasi Excel Untuk Rekayasa Teknik Sipil.
Microsoft Excel adalah program spreadsheet atau pengolah angka yang paling populer dan banyak digunakan saat ini. Disukai banyak kalangan karena pengoperasiannya yang relatif mudah dengan hasil yang memuaskan. Dalam lingkup Teknik Sipil, Excel sudah mcndapat tempat tersendiri bagi profesi mereka.
Salah satu kekuatan Excel adalah bahasa macro-nya. Hal ini tentu tidak lepas dari aplikasi Visual Basic (Visual Basic for Application) yang bekerja dengan Excel. Macro yang selama ini kita kenal, umumnya digunakan sebagai otomasi langkah-langkah pekerjaan dalam aplikasi perkantoran. Namun dalam hal lain, juga dapat digunakan untuk aplikasi perhitungan. Di sini terdapat kombinasi yang unik antara spreadsheet dan Visual Basic yang ternyata banyak memberikan kemudahan bagi pemakai jika membuat program perhitungan di Excel.
Bekerja dengan Excel berarti kita menginginkan suatu penyelesaian yang cepat dan praktis, namun diharapkan dengan hasil yang maksimal pula. Jadi, tinggal bagaimana memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada sebaik mungkin. Tidak ada aturan baku memang dari Microsoft tentang aplikasi Excel untuk rekayasa teknik. Sebab, apabila kombinasi antara fungsi-fungsi Excel dan aplikasi VB diterapkan, aplikasinya akan sangat luas.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1
Dasar-dasar Excel
1.1.
Worksheet dan Workbook
1.2.
Tipe Data
1.3.
Formula
1.4.
Fungsi Built-In
1.5.
Formula Array
1.6.
Format Data dan Sel
1.7.
Pesan Error
1.8.
Mencetak Worksheet
1.9.
Membuat Grafik
BAB 2
FUNGSI
2.1.
Fungsi Numerik
2.2.
Fungsi Logika
2.3.
Fungsi Pembacaan Tabel
2.4.
Fungsi Teks
2.5.
Fungsi Pemakai
2.5.1.
Membuat Fungsi dengan Macrosheet
2.5.2.
Membuat Fungsi dengan Aplikasi Visual Basic
2.5.3.
Alur Program
2.5.4.
Contoh-Contoh Fungsi Pemakai
2.6.
Circular Reference
BAB 3
FUNGSI UNTUK ANALISIS DATA
3.1.
Pemodelan Data
3.1.1.
Regresi Linear
3.1.2.
Regresi Polinomial
3.1.3.
Contoh Regresi dalam Grafik
3.1.4.
Interpolasi
3.2.
Data Statistik
3.2.1.
Histogram dan Distribusi Kumulatif
3.2.2.
Range, Mean, dan Standard Deviation
3.2.3.
Distribusi Normal
BAB 4
PROGRAM MATRIKS
4.1.
Pengertian Matriks
4.1.1.
Tipe Matriks
4.1.2.
Operasi Matriks
4.2.
Macro Program
4.2.1.
Membuat Macro Program
4.2.2.
Program Untuk Operasi Matriks
4.2.3.
Tip
4.3.
Metode Matriks Untuk Analisis Struktur
4.3.1.
Struktur Atas
4.3.2.
Struktur Bawah
BAB 5
PROGRAM EXCEL UNTUK REKAYASA TEKNIK SIPIL
5.1.
Struktur Frame Balok
5.2.
Struktur Rangka Batang
5.3.
Balok di Atas Medium Elastis
5.4.
Dinding Penahan Tanah
5.5.
Pondasi Pelat
5.6.
Konsolidasi Satu Dimensi
BAB 6
SCRIPT FILE AUTOCAD
BAB 7
LISTING PROGRAM
7.1.
Visual Basic for Application
7.2.
Petunjuk Pemakaian Program
7.3.
Listing Program
Daftar Pustaka

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More